PENDIDIKAN KARAKTER child development
Istilah karakter dihubungkan
dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan
dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Sedangkan Karakter
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan,
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan
demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri
dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil
olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau
sekelompok orang.
Karakter juga sering diasosiasikan
dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih memberi penekanan
pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks
lingkungan. Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan
pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada
seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang
bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture)
dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh
dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk
mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada
jangkauan masyarakat dan ndividu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan
karakter seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat
atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor
lingkungan.
Faktor Pendidikan
Karakter
Faktor lingkungan
dalam konteks pendidikan karakter memiliki
peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil
dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini.
Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya
lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik,
dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan
dapat dilakukan melalui strategi :
1.
Keteladanan
2.
Intervensi
3.
Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
4.
Penguatan.
Dengan kata lain
perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang
ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran,
pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara
konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur
Pendidikan memang tak lepas dari makna dan
definisi. Dalam dunia pendidikan banyak sekali istilah-istilah yang dipakai dan
memerlukan pembahasan mengenai hal definisi atau pengertiannya. Pada blog pendidikan ini, Maswins for Educations,
sebelum melangkah membahas mengenai pengertian-pengertian istilah dalam dunia
pendidikan, ada baiknya jika terlebih dahulu membahas mengenai pengertian
pendidikan itu sendiri.
Berikut adalah beberapa pengertian Pedidikan menurut Undang-Undang dan para ahli yang saya kutip dari beberapa sumber :
Berikut adalah beberapa pengertian Pedidikan menurut Undang-Undang dan para ahli yang saya kutip dari beberapa sumber :
1.
Pendidikan Menurut UU Sisdiknas
Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.
1.
Pendidikan Menurut Carter V. Good
Pendidikan adalah
proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang
berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu
lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai
kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.
1.
Pendidikan Menurut Godfrey Thomson
Pendidikan adalah
pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tepat
didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.
1.
Pendidikan Menurut UNESCO
UNESCO menyebutkan
bahwa: “education is now engaged is preparinment for a tife
Society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa datang.
Society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa datang.
1.
5. Pendidikan
Menurut Thedore Brameld
‘’Education as power
means copetent and strong enough to enable us,the majority of people,to decide
what kind of a world‘’. (Pendidikan sebagai kekuatan
berarti mempunyai kewenangan dan cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk
menentukan suatu dunia yang macam apa yang kita inginkan dan macam mana
mencapai tujuan semacam itu).
1.
Pendidikan Menurut Thedore Brameld
Robert W. richey
menyebutkan bahwa; The term “Education” refers to the broad
funcition of preserving and improving the life of the group through bringing
new members into its shared concem. Education is thus a far broader process
than that which occurs in schools. It is an essential social activity by which
communities continue to exist. In Communities this function is specialzed and
institutionalized in formal education, but there is always the education, out
side the school with which the formal process is related. (Istilah
pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan
suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung
jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang
lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan
adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan
berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami
spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap
berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah).
Pendidikan karakter didasarkan
pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui – nilai-nilai
yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Beberapa hal di
bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa memahami Enam Pilar
Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
1. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu,
menjiplak atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda
akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun
reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2. Recpect (Respek)
Bersikap toleran
terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk,
pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti
orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.
3. Responsibility
(Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang
terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak –
mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.
4. Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai
aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang
lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang
lain sembarangan.
5. Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh
kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang
lain, membantu orang yang membutuhkan.
6. Citizenship (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah
dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan
masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan,
menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
·
Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan
karakter
Pendidikan karakter
pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak
mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang
dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh
iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
1.
mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik
2.
memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang
multikultur
3.
meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam
pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
·
Nilai-nilai Pembentuk Karakter
Satuan pendidikan
sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai
pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing.
Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk
selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat
Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain
takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
1.
Jujur
2.
Toleransi
3.
Disiplin
4.
Kerja keras
5.
Kreatif
6.
Mandiri
7.
Demokratis
8.
Rasa
Ingin Tahu
9.
Semangat
Kebangsaan
10.
Cinta Tanah Air
11.
Menghargai Prestasi
12. Bersahabat/Komunikatif
13.
Cinta Damai
14.
Gemar Membaca
15. Peduli
Lingkungan
16. Peduli
Sosial
17. Tanggung
Jawab
18.
religius
(Puskur. Pengembangan
dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai
dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
Pendidikan yang
diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan
dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain
dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakterb
pada anak didik. Pendidikan karakter penting artinya sebagai
penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai
bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus
malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau
seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang
tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti
tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif
dan pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak
mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Sama
juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan
karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan
pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan
berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa
pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan
dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak
mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan
karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan
nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri
dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang
pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster:
1.
Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan
berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada
dan berpedoman pada norma tersebut.
2.
Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan
keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian
dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi
situasi baru.
3.
Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan
mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan
begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa
dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.
4.
Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan
anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan
dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan
karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan
karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan
karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial
seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan
mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi
unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun
memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan
penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan
kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan
orang lain (soft skill).
Penelitian ini
mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan
sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk
melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa
menerapkannya dalam polapendidikan yang diberikan pada
anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang
hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan
dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang
dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil
keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan
dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya,
sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan
pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara
berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya
dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan
dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar
juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi
Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.
Suatu hari seorang
anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya
ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong.
Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa
kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar
bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan
segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa
segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki
tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana.
Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa
sebabnya?
Ternyata bagi seekor
kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat
dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang
mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang
sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut
maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang
hanya dapat merayap. Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan
terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan
guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada
anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan
sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala
kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya
malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak
berkembang. Memandukan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka
mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru
menjadi kuat dan berkarakter.
Sama halnya bagi
pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari
orangtua dan sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang
berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat
dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat
dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak
positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari
sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas terpancar di diri
kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan
baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan
karakter. Segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun butuh proses. Anak
yang nakal itu juga anak yang disiplin.Dia disiplin
untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu
telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak
menggunakan seragam lengkap.
Karakter suatu bangsa
merupakan aspek penting yang mempengaruhi pada perkembangan sosial-ekonomi.
Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan menumbuhkan
keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa. Pengembangan karakter
yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang
dipercaya secara luas menyatakan “ jika kita gagal menjadi orang baik di usia
dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat”.
Thomas Lickona mengatakan
“ seorang anak hanyalah wadah di mana seorang dewasa yang bertanggung jawab
dapat diciptakan”. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi
investasi manusia yang sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan
“Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan
100% dari masa depan”. Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk
membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan
karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap
pembentukan moral anak.
Efek berkelanjutan
(multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan dapat terlihat,
seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, “Kemampuan sosial dan emosi pada
masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti konsumsi alkohol
yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan sepanjang masa;
perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat meningkatkan kesehatan
manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap tekanan yang akan berdampak
langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan sosial yang tinggi pada
orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu meningkatkan perkembangan
fisiknya.”
Sangatlah wajar jika
kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik dasar–dasar
moral pada anak. Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang tinggal di
daerah miskin, tidak memperoleh pendidikan moral dari orang tua mereka.
Kondisi
sosial-ekonomi yang rendah berkaitan dengan berbagai permasalahan, seperti
kemiskinan, pengangguran, tingkat pendidikan rendah, kehidupan bersosial yang
rendah, biasanya berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan lebih jauh
lagi berpengaruh terhadap pola asuhnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
anak-anak yang tinggal di daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima
perilaku negatif (seperti kekerasan fisik dan mental, dan ditelantarkan)
daripada anak-anak dari keluarga yang berpendapatan lebih tinggi.
Banyak hasil studi
menunjukkan bahwa anak-anak yang telah mendapat pendidikan pra-sekolah
mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak masuk ke
TK, terutama dalam kemampuan akademik, kreativitas, inisiatif, motivasi, dan
kemampuan sosialnya. Anak-anak yang tidak mampu masuk ke TK umumnya akan
mendaftar ke SD dalam usia sangat muda, yaitu 5 tahun. Hal ini akan
membahayakan, karena mereka belum siap secara mental dan psikologis, sehingga
dapat membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri, dan dapat membunuh
kecintaan mereka untuk belajar. Dengan demikian sebuah program penanganan
masalah ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak dengan berbagai pengalaman
penting dalam pendidikan prasekolah. Adalah hal yang sangat penting untuk
menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk mulai memasukkan anaknya ke
prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk
bersama-sama melakukan pendidikan karakter.

Komentar
Posting Komentar