PENDAGOGI DAN ANDRAGOGI
A. Pengertian
Pedagogi
1. Makna
Tradisional
Konsep paling
tradisional dari pedagogi bermakna suatu studi tentang
bagaimana menjadi guru. Lebih khusus lagi, awalnya kata pedagogi bermakna cara
seorang guru mengajar atau seni mengajar (the art of teaching).
Belakangan istilah pedagogi secara umum diberi makna lebih
luas, yaitu merujuk pada strategi pembelajaran, dengan titik tekan pada gaya
guru dalam mengajar.
Paedagogi berasal
dari bahasa Yunani (paidagōgeō; país:anak
dan ági: memimpin) atau paedagogia yang berarti
pergaulan dengan anak-anak. Di Yunani kuno, biasanya
diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak majikannya. Termasuk
didalamnya mengantarkan ke sekolah atau tempat latihan, mengasuhnya, dan
membawakan perbekalannya (seperti membawakan alat musiknya). Paedagagos
berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya
“memimpin atau membimbing”. Darikata ini maka lahir istilah paedagogi yang
diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dalam
perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni
mengajar.
Paedagogi juga
merupakan kajian mengenai pengajaran,
khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains
dan seni mengenai cara mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan
mata pelajaran yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah.
Sebagai satu bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai
proses pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah
dan juga interaksi guru-pelajar.
Isu-isu
dan komplikasi lebih lanjut yang timbul dari penggunaan istilah pedagogimerupakan
seperangkat konsep untuk menjelaskan proses. Berikut tiga isu tertentu muncul
terkait dengan masalah pedagogi.
a) Pedagogi merupakan
sebuah proses yang bertujuan. Dalam makna umum istilah ini sering digunakan
untuk menjelaskan prinsip-prinsip dan praktik mengajar anak-anak.
b) Banyak pekerjaan “pedagogi sosial” yang telah
digunakan untuk menggambarkan prinsip-prinsip mengajar anak-anak dan kaum muda.
Sementara banyak penulis seperti Paulo Freire (1972) telah menggunakan
pengertian pedagogi merujuk kepada pekerjaan dengan orang dewasa yang di
dalamnya juga terkait erat dengan mengajar anak-anak.
c) Sejauh mana pengertian
pedagogi telah dipahami dan dominan mewarnai proses pembelajaran dalam
konteks sekolah. Tidak mungkin persoalan mengajar hanya dikaitakn dengan guru
atau siswa semata. Diskusi tentang pedagogi selalu dikaitkan dengan kurikulum,
pengajaran, siswa, media pembelajaran, dan situasi yang mengitarinya. Bahkan
istilah pedagogi menyentuh juga dimensi pendidikan pada umumnya atau seluruh
tatanan yang memungkinkan interaksi antar subjek yang bernuansa pengajaran dan
pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, di sekolah atau di luar
sekolah.
Jadi, secara
tradisional pedagogi adalah seni mengajar. Guru yang efektif senantiasa
menggunakan alternatif strategi pembelajaran, karena tidak ada pendekatan
tunggal yang universal untuk semua bahan ajar dan situasi. Strategi yang
berbeda digunakan dengan kombinasi yang berbeda untuk kelompok siswa yang
berbeda, yang diharapkan akan dapat meningkatkan hasil belajar. Strategi yang
lebih cocok untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tertentu berbeda
untuk masing-masing siswa dan konteksnya.
2. Makna
Modern
Pandangan tradisional
memposisikan pedagogi sebatas seni mengajar atau mengasuh.
Kini sangat kuat dn konsisten untuk mengembangkan hubungan dialektis yang
bermanfaat antara pedagogi sebagai ilmu dan pedagogi sebagai
seni (Salvatori, 1996). Melihat pedagogi dari dua perspektif ini nampaknya
paling ideal. Kalaupun kita mengakui bahwa pedagogi sebagai ilmu pengetahuan
dan terdefinisi secara spesifik, tentu definisi itu juga akan menggamit dimensi
seni, teori dan praktik mengajar dan belajar. Kesemuanya sesungguhnya memiliki
fokus yang sama. Beberapa define yang terkait dengan pedagogi disajikan berikut
ini.
a) Pengajaran (teaching),
yaitu teknik dan metode kerja guru dalam mentransformasikan konten pengetahuan,
merangsang, mengawasi, dan memfasilitasi penembangan siswa untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang berhasil. Termasuk dalam kerangka pengajaran adalah
penilaian formatif dan sumatif, juga memberi peluang kepada siswa untuk
membantu mervisi dan meningkatkan kualitas pemikiran dan pemahaman. Definisi
ini menempatkan guru pada posisi sentral.
b) Belajar (learning)
yaitu proses siswa mengembangkan kemandirian dan inisiatifdalam memperoleh dan
meningkatkan pengetahuan serta keterampilan (seperti penyelidikan, berpikir
kritis, kerja sama tim, mengorganisasikan, dan memecahkan masalah). Sesuai
dengan perjalanan waktu kualitas mengajar dapat mengakibatkan siswa mencapai
pemikiran tingkat tinggi dan pemahaman yang mendalam, mengetahui tentang proses
belajar mereka sendiri, metakognisi, kemampuan untuk mentransfer apa yang telah
dipelajari pada situasi baru, dan kapasitas umum untuk menjalani kehidupan yang
lebih luas dan belajar seumur hidup. Belajar seumur hidup itu merupakan sebuah
kontinum yang berlaku untuk guru.
c) Hubungan
mengajar dengan belajar dengan segala faktor lain yang tergamit mendorong minat pedagogi,
misalnya, siswa melakukan penelitian sederhana. Hubungan itu bisa bermakna
siswa dimbimbing oleh guru atau kegiatan belajar yang berpusat pada siswa,
namun tetap di bawah bimbingan guru. Hubungan itu, apapun bentuknya tetap
terkait dengan kegiatan mengajar dan belajar. Memang ada pemikiran yang
kontras, bahwa aktivitas mengajar dan belajar itu kehilangan hubungan efikasi:
siswa harus menjadi proaktif dan lebih otonom.
d) Hubungan
mengajar dan belajar berkaitan dengan semua pengaturandan pada segala tahapan
usia, yaitu sebagaimana yang dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal
dan non formal dalam masyarakat, dalam keluarga, dan dalam kehidupan kerja
(Cropley dan Dave. 1978). Sekolah merupakan salah satu bagian dari total
spectrum pengaruh pendidikan.
Pedagogi yang
efektif menggabungkan alternativf strategi pembelajaran ang mendukung
keterlibatan intelektual, memiliki keterhubungan dengan dunia yan lebih luas,
lingkungan kelas yang kondusif, dan pengakuan atas perbedaan penerapannya pada
semua pelajaran. Praktis pedagogis yang efektif mempromosikan kesejahteraan
siswa, guru, dan komunitas sekolah. Juga meningkatkan kepercayaan siswa dan
guru, memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah,serta membangun
kepercayaan masyarakat atas kualitas belajar dan mengajar di sekolah.
Selain dari penjelasan
di atas, juga terdapat beberapa pengertian pedagogi menurut para ahli. Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda) pedagogik
adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu,
yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogik adalah
ilmu untuk mendidik anak. Langeveld (1980), membedakan istilah “pedagogik“ dengan istilah “
pedagogi”. Pedagogik diartikan
dengan ilmu mendidik, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan
tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing
anak, dan mendididk anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti
pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktik, menyangkut kegiatan mendidik,
kegiatan membimbimg anak.
Ana Maria Gonzalez
Soca mendefinisikan proses paedagogis sebagai sebuah proses
pendidikan yang menyoroti hubungan antara pendidikan, pengajaran, dan
pembelajaran yang bertujuan utnuk mengembangkan kepribadian siswa agar
mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan. Beliau juga memperhitungkan
hubungan antara semua proses dan pendidikan sebagai target pencapaian sekolah,
namun proses paedagogis tidak melampaui batas-batas institusi pendidikan.
Beliau tidak mempertimbangkan bahwa keluarga dan masyarakat juga terlibat dalam
pendidikan generasi sekarang dan mendatang.
Gladys Valdivia (1988)
mendefenisikan proses paedagogis erat kaitannya dengan tujuan
sosial yang dikembangkan dan berhubungan satu sama lain. Unit dialektik
yang ada di antara pendidikan dan pengajaran, serta sifat umum pendidikan itu
sendiri yang menunjukan kehadiran paedagogi ada di dalam dan luar proses
sekolah.
Menurut Addine (2001),
di antara prinsip-prinsip paedagogis terdapat kesatuan karakter ilmiah dan
ideologis dari proses paedagogis. Karakter ilmiah dan ideologis ini menyoroti
bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling
maju di bidang sains kontemporer dan dalam korespondensi total dengan ideologi
kita. Selain itu, prinsip hubungan sekolah dan kehidupan didasarkan pada dua
aspek penting: kaitan antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang
mendidik manusia. Prinsip lain yang berorientasi pada proses tersebut adalah
salah satu yang mengombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta
penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya merujuk pada
kesatuan pengajaran, pendidikan dna perkembangan proses, karena didasarkan pada
kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan
kegiatan pembangunan pada umumnya. Prinsip terakhir dari proses paedagogis
adalah bahwa masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian
saling terkait satu sama lain.
B. Pengertian
Andragogi
Seni dan ilmu orang
mengajar orang dewasa disebut andragogi. Istilah “dewasa” di sini
lebih ditafsirkan sebagai kedewasaan psikologis ketimbang “dewasa” dalam makna
kronologis. Denan demikian, istilah “pedagogi dan andragogi”, seperti halnya “pedagogis
dan andragogis” dapat juga ditafsirkan sebagai “label perlakuan” dalam
rangka pembelajaran bagi orang-orang yang dominan dengan ciri-ciri perilaku
anak-anak atau dominan ciri perilaku kedewasaannya. Ada orang yang secara usia
kronologis masih masuk kelompok anak-anak, tapi sudah tampil relative dewasa.
Ada juga yang secara usia kronologis sudah masuk kategori usia dewasa, namun
masih berperilaku seperti anak-anak, belum menunjukkan kedewasaan.
Andragogi muncul
semula di Eropa pada tahun 1921 dan meluas digunakan pada tahun 1960an di
Perancis, Belanda dan Yugoslavia. Artikel Knowles ‘Andragogy Not Pedagogy’,
diterbitkan dalam Adult Leadership pada 1968 adalah karya pertamanya berkenaan
dengan andragogi. Manakala Lindeman pula menitikberatkan komitmen dalam hal
bertindak ke arah Sendiri (self-directed), pengalaman dan penyelesaian masalah
melalui pembelajaran dewasa, Linderman dan Knowles memainkan peranan
penting dalam evolusi andragogi di Amerika.
Lindeman boleh dilihat
sebagai ‘spiritual father’ manakala Knowles pula ‘putative father’ andragogi.
Definisi Andragogi Pembelajaran dewasa atau lebih dikenali sebagai andragogi
agak sukar didefinisikan karena maksudnya yang agak luas dan banyak tokoh yang
memberikan pandangan yang berbeda-beda. Antara lain tokoh terkenal adalah
Malcolm Knowles, Edward Lindeman, Tough dan sebagainya. Menurut Knowles,
sebelum wujudnya andragogi, pedagogi sudah muncul. Pedagogi adalah seni dan
kebudayaan bagi pembelajaran anak-anak. Perkataan itu diambil dari Yunani yaitu
‘paid’ bermaksud ‘child’ dan ‘agogus’ bermaksud ‘leader of’.
Istilah andragogi berasal
dari kata Yunani “anere” yang bermakna dewasa dan “agogus” yang bermakna
mendidik atau mengajari. Baik sebagai seni maupun ilmu, andragogi esensinya
adalah membantu orang dewasa agar mampu belajar dan menjadi pembelajar. Malcolm
Knowles adalah Bapak Andragogi. Gelar ini dilabelkan kepadanya karena dia
sangat peduli mengembangkan dan mengampanyekan andragogi. Tentu ana
nenek andragogi adalah Alexander Kapp, karena dia yang pertama kali melahirkan
istilah itu. Knowles merumuskan prinsip-prinsip layanan bagi pembelajar dewasa,
seperti disajikan berikut ini.
1. Orang dewasa
perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pengajaran mereka. Orang
dewasa dapat mengarahkan diri untuk belajar.
2. Pengalaman,
termasuk kesalahan, menjadi fondasi dasar untuk belajar. Orang dewasa banyak
belajar dari pengalaman.
3. Orang dewasa
paling tertarik untuk mempelajari mata pelajaran yang memiliki relevansi
langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadi.
4. Belajar orang
dewasa lebih berorientasi pada tujuan praktis ketimbang konten.
Fokus apa yang harus
diperhatikan pada strategi pembelajaran orang dewasa? Mengingat karakteristik
pelajar dewasa yang berbeda dengan anak-anak, desainer pengajaran atau
pembelajaran harus memasukkan unsur-unsur berikut ini.
1. Metakognisi.
Siswa dewasa lebih memilih untuk belajar melalui penilaian diri dan koreksi
diri.
2. Refleksi.
Siswa dewasa melakukan refleksi atas apa yang dipelajari dan perolehan
belajarnya.
3. Pengalaman
sebelumnya. Siswa dewasa banyak belajar dari dan menggunakan pengalaman sebelumnya
sebagai bekal belajar.
4. Percakapan
atau dialogis. Siswa dewasa lebih menyukai pendekatan dialogis dalam
pembelajaran, ketimbang monologis.
5. Pengalaman
otentik. Siswa dewasa lebih tertarikdengan pengalaman otentik ketimbang yang
abstrak.
6. Motivasi.
Siswa dewasa lebih mengandalkan motivasi diri atau motivasi internal ketimbang
eksternal.
7. Strategi
pembelajaran generative. Kegiatan yang membantu membangun pengetahuan siswa
dewasa oleh mereka sendiri.
Seperti dijelaskan
sebelumnya, teori Knowles tentang andragogi merupakan suatu
usaha untuk mengembangkan teori yang khuus diperuntukkan bagi pembelajaran atau
membelajarkan orang dewasa. Knowles menekankan bahwa orang dewasa dapat mendiri
dan mengharapkan mengambil tanggungjawab atas keputusan mereka sendiri.
Program pembelajaran
orang dewasa harus mengakomodasi aspek fundamental ini. Dari pnjelasan ini
makin nampak bahwa dewasa yang dimaksud utamanya kedewasaan atau sikap dewasa
yang bisa ditampilkan oleh warga belajar. Sejalan dengan uraian sebelumnya,
asumsi-asumsi andragogi tentang desain belajar disajikan seperti berikut ini.
1. Orang dewasa
perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu. Orang dewasa
ingin dan berkecenderungan bertindak ke arah sendiri apabila mereka semakin
matang walaupun ada masanya mereka bergantung pada orang lain.
2. Orang dewasa
perlu belajar atas dasar pengalaman. Pengalaman orang dewasa adalah sumber
pembelajaran yang penting. Pembelajaran mereka lebih berkesan melalui
teknik-teknik berasaskan pengalaman seperti perbincangan dan penyelesaian
masalah.
3. Orang dewasa
belajar sebagai pendekatan pemecahan masalah. Orang dewasa sedar keperluan
pembelajaran secara khusus melalui masalah-masalah kehidupan sebenar. Oleh itu,
program-program pendidikan dewasa sepatutnya dirancang mengikut keperluan hidup
dan disusun mengikut kesediaan dan keupayaan untuk belajar.
4. Orang dewasa
belajar baik ketika topik yang dipelajari memiliki nilai langsung. Orang
dewasa belajar bersungguh-sungguh bagi menguasai suatu pengetahuan ataupun
kemahiran bagi keperluan hidup. Oleh itu, pembelajaran orang dewasa adalah
berpusatkan pencapaian. Kesungguhan orang dewasa menguasai suatu kemahiran
ataupun pengetahuan adalah untuk keperluan hidup ataupun semasa.
Dalam istilah praktis
andragogi berarti bahwa pengajaran untuk orang dewasa perlu lebih berfokus pada
proses dan kurang pada konten yang diajarkan. Strategi seperti studi kasus,
permainan peran, simulasi dan evaluasi diri biasanya dipandang paling
bermanfaat. Dalam kaitan ini, instruktur mengadopsi peran
fasilitator atau sumber daya, bukan selayaknya guru atau dosean mengajar siswa
atau siswa di ruang kelas konvensional.
Kesimpulan Andragogi
atau pembelajaran dewasa adalah proses pembelajaran kontinyuitas dalam jangka
masa panjang di mana melibatkan orang dewasa yang sudah matang daripada segi
pemikiran. Walaupun berbagai definisi dilontarkan oleh pelopor-pelopor
pembelajaran dewasa, namun mereka memberikan kesimpulan yang sama. Andragogi
diaplikasikan dalam semua bentuk pembelajaran orang dewasa dengan meluaskan
skop-skop latihan, pembangunan, pendidikan dan sebagainya.
Secara operasional,
prinsip andragogi adalah:
1. Pembelajaran
adalah proses yang berterusan. Orang dewasa merasakan keperluan dalam berbagai
bidang kemahiran dan pengalaman yang dimiliki adalah penting bagi masa depan
mereka.
2. Orang dewasa
belajar dengan lebih baik apabila secara personelnya mereka terlibat dalam
proses merancang, menilai dan melaksanakan persekitaran mereka tanpa mengganggu
tahap keselamatan estim diri mereka.
3. Orang dewasa
memilih dan suka belajar bagi memudahkan mereka mengetahui tahap kebolehan dan
kemahiran yang dimiliki dalam semua situasi pembelajaran.
4. Orang dewasa
belajar dengan baik apabila mereka mempunyai motivasi untuk berubah,
self-discovered atau mempunyai kemahiran dan strategi spesifik.
Fungsi yang nyata
dalam konsep andragogi adalah bertentangan dengan prinsip pedagogi.
Ia berbeda karena pedagogi meluaskan pengaruhnya dalam pendidikan formal yang
merangkumi pendidikan sekolah dasar, menengah dan institusi-institusi
pendidikan tinggi.
Orang dewasa tidak
lagi bergantung harap dengan orang lain karena mereka bertindak ke arah
sendiri. Ia dianggap sepadan dengan pemikiran dan pengalaman yang dimiliki oleh
orang dewasa. Pengalaman yang dimiliki oleh orang dewasa dianggap sebagai
sumber pembelajaran yang penting dalam meningkatkan keupayaan orang dewasa
dalam meneruskan proses pembelajaran.
C. Perbedaan
antara Pedagogi dan Andragogi
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa andragogi
adalah teori belajar yang dikembangkan untuk kebutuhan khusus orang dewasa.
Berbeda dengan pedagogi, atau belajar di masa kanak-kanak, orang dewasa yang
mandiri dan mengharapkan untuk mengambil tanggung jawab atas keputusannya
sendiri. Program pembelajaran orang dewasa harus mengakomodasi aspek
fundamental, yang berbeda dengan pembelajaran bagi anak-anak. Apa perbedaan
pedagogi dan andragogi? Malcolms S. Knowles (1970) membedakan kedua disiplin
ilmu andragogi dan pedagogi.
1. Pedagogi
a) Pembelajar disebut siswa atau anak didik.
b) Gaya belajar dependen
c) Tujuan ditentukan sbelumnya
d) Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalamn dan/atau
kurang informasi
e) Metode pelatihan pasif, seperti metode
kuliah/ceramah
f) Guru mengontrol waktu dan kecepatan
g) Peserta berkontribusi sedikit penglaman
h) Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis
i) Guru sebagai sumber utama yang memberikn ide-ide dan
contoh
2. Andragogi
a) Pembelajar disebut peserta didik atau warga belajar
b) Gaya belajar independen
c) Tujuan fleksibel
d) Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki
mengalaman untuk berkontribusi
e) Menggunakan metode pelatihan aktif
f) Pembelajar mempengaruhi waktu dan kecepatan
g) Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting
h) Belajar terpusat pada masalah kehidupan nyata
i) Peserta dianggap sebagai sumberdaya utama untuk
ide-ide dan contoh.
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi
dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat
terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu:
1. Citra Diri
Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung
pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan
merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari
citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut
sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan
demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila
diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki
kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk
belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk
terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan
tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses
andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses
pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.
2. Pengalaman
Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang
sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama
sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung
sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa
justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan
proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak
murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan
dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan
membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih
bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam
proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan
sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar
Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah
dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang
memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya,
serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi,
peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan
kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.
4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar
Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan
anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang
sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata
pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan
pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan
suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu
pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan
pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan
"dimana kita sekarang" dan "kemana kita akan pergi", itulah
pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi
adalah berarti "memecahkan masalah hari ini", sedangkan pada
pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi
yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

Komentar
Posting Komentar